Berdana Di Bulan Kathina
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Candakaro
Memberikan
dana dengan penuh keyakinan, hendaknya Sila selalu dilaksanakan, rajin
melatih Samadhi, maka ia akan dapat terlahir di alam Surga.
Kehidupan
manusia tidak dapat lepas dari hubungan antar sesama, ia masih
membutuhkan bantuan atau dukungan dan dorongan dari pihak lain. Demikian
pula umat mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap para Bhikkhu,
salah satunya adalah menyokong kebutuhannya, (Sigalovada Sutta, Diggha
nikaya III, 31).
Apakah kebutuhan para Bhikkhu itu? Mengenai hal
ini adalah empat macam kebutuhan pokok, yaitu: Sandang, pakaian (jubah),
makanan, tempat tinggal dan obat-obatan, itu adalah kebutuhan yang
pokok. Oleh karena itu para umat Buddha menyokongnya dengan cara
berdana, seperti halnya pada hari Kathina. Setelah masa Vassa (berdiam
di satu tempat selama tiga bulan pada musim hujan) selesai, ada hari
yang disebut: Pavarana (mengundang) tiga bulan setelah Vassa pada bulan
purnama, para Bhikkhu mengakhiri Vassa dengan mengadakan Pavarana
bersama-sama, yaitu: saling mengundang Bhikkhu yang satu dengan yang
lainnya untuk memberikan nasehat atau memberi maaf, barangkali ada
kesalahan. Kemudian ada hari yang disebut: Berdana Kathina di dalam
Ajaran Sang Buddha.
Ada beberapa pengertian tentang yang disebut berdana Kathina dengan sempurna, yaitu:
1. Di Vihara itu minimal ada 5 orang Bhikkhu yang berVassa.
2. Kelima orang Bhikkhu itu harus memasuki masa Vassa yang sama.
3. Harus menyelesaikan masa Vassa pada waktu yang sama dan sempurna.
4. Kathina itu harus diselenggarakan di Uposathagara.
5. Pada upacara itu, kelima orang Bhikkhu yang berVassa di
vihara itu menerima persembahan Kathina dusam (kain pembuat jubah
Kathina) yang dipersembahkan oleh umat.
6. Kelima orang
Bhikkhu itu kemudian serentak membuat sangha kamma, memutuskan siapakah
Bhikkhu yang berhak menerima jubah Kathina pada waktu itu.
Keputusan
itu ditempuh dengan suatu cara prosedur yang demokratis. Seorang atau
beberapa orang Bhikkhu mengajukan usul, bhikkhu yang lain memperkuat dan
yang lain menyetujui. Dan akhirnya jubah Kathina itu diserahkan kepada
Bhikkhu yang berhak untuk menerima. Bahan jubah itu harus dipotong,
dijahit, dicelup pada hari itu juga dan sebelum fajar menyingsing, jubah
harus sudah siap dan diserahkan kepada bhikkhu yang berhak. Inilah yang
disebut Jubah Kathina, inilah Kathina puja yang sesungguhnya.

Demikianlah
yang dijelaskan oleh Sang Buddha, betapa besar manfaat bagi seseorang
yang bisa mempersembahkan Kathina dana, sebab Kathina dana tak dapat
dipersembahkan setiap saat.
Kathina dana hanya bisa dipersembahkan di suatu vihara dan hanya berhak menyelenggarakan Kathina satu kali pada waktu tahun itu.
Pada
upacara kathina, selain mempersembahkan jubah kepada Sangha, para umat
nampaknya juga mempersembahkan empat kebutuhan pokok bagi para Bhikkhu.
Banyak umat yang tidak sempat mempersiapkan empat kebutuhan pokok ini,
maka umat buddha menggantikan dengan wujud uang. Kita sebagai umat
buddha tentunya perlu sekali mengerti dengan benar, bagaimana cara
berdana yang baik itu. Dana yang diberikan seseorang akan menjadi dana
yang bermanfaat, kalau berdana dengan baik dan benar.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Cetana-sampada
Kalau saudara Ingin berdana, hendaknya saudara mempunyai pikiran yang ikhlas, senang dan bahagia. Mengenai hal ini adalah:
* Sebelum berdana merasa senang dan bahagia.
* Pada waktu berdana merasa senang dan bahagia.
* Sesudah berdana merasa senang dan bahagia.
Dari ketiga hal ini, yang paling penting adalah yang ketiga, Walaupun yang kesatu dan kedua juga penting.
Misalnya : sebelum berdana senang, waktu memberikan ikhlas,
sesudahnya menyesal. Ini sangat disayangkan, karena mengurangi nilai
kebaikannya. Didalam Kitab Suci dijelaskan, orang yang mempunyai
kebiasaan seperti ini, waktu muda ia akan hidup makmur, kaya raya dan
sejahtera. Tapi itu semua hanya bertahan separuh umur. Jaya hanya
kira-kira sampai lima puluhan tahun, sesudah itu mengalami kemerosotan
dan akhirnya menjadi miskin. Yang paling baik dan jasanya dapat bertahan
lama adalah merasa bahagia, ikhlas, gembira dan bahagia, baik sebelum,
pada saat maupun sesudah berdana.
2. Vatthu-sampada
Barang yang didanakan sebaiknya barang-barang yang bersih, yang
didapat dari tidak melanggar Negara dan Agama dan dana ini haruslah
baik, yang disebut Sami Dana. Janganlah berdana yang tak bisa
dipergunakan lagi baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
Dana untuk para Bhikkhu, orang tua, guru, disebut: Puja Dana (dana
sebagai persembahan perhormatan). Tidak sama dengan berdana untuk orang
miskin, gelandangan, pegawai saudara, ini disebut: Anugaha Dana (berdana
sebagai hadiah, sebagai anugerah).
3. Puggala-sampada
Berdana kepada siapa? Sang Buddha pernah dituduh seseorang:
"Apakah benar Sang Bhagava mengajarkan bahwa berdana kepada orang tidak
punya moral itu tidak ada gunanya?" Sang Buddha kemudian menjawab: "Aku
tidak pernah mengatakan bahwa berdana tidak ada gunanya, meskipun orang
membuang sisa-sisa dari satu panci atau mangkuk kedalam sebuah tambak
atau telaga dan mengharap agar para makhluk hidup di dalamnya dapat
memperoleh makanan, perbuatan inipun merupakan sumber dari kebaikan,
apalagi dana yang diberikan kepada sesama manusia".Inilah yang
Tathagatha ajarkan, (Anguttaranikaya III, 57). Sang Buddha menyatakan:
"Berdana kepada Sangha sangat besar jasanya".
Di dalam
Velumakkha-Sutta disebutkan: "Berdana kepada orang yang bermoral lebih
besar jasanya daripada berdana kepada orang yang tidak punya moral.
Kepada Sotapanna lebih besar dari orang yang bermoral. Kepada seorang
Sakadagami lebih besar dari 100 Sotapanna. Kepada seorang Anagami lebih
besar dari 100 Sakadagami. Kepada seorang Arahat lebih besar dari 100
Anagami. Kepada seorang Paccekka Buddha lebih besar dari 100 Arahat.
Kepada seorang Sammasam-buddha lebih besar dari 100 Paccekka Buddha.
Berdana kepada Sangha lebih besar jasanya dari berdana kepada seorang
Samma-sambuddha. Dana kepada Sangha tak pernah sia-sia, sekalipun sampai
seratus ribu kalpa lamanya".
Berdana kepada sangha itu
lebih besar manfaatnya, karena tidak mengenal favoritisme. Berbeda
dengan berdana hanya untuk seorang bhikkhu, yang disebut: Puggala Dana
(dana untuk individu). Sang Buddha juga menguraikan, masih ada yang
lebih besar jasanya daripada berdana untuk Sangha, yaitu melaksanakan
sila, sebagai orang awam menjalankan Pancasila lebih besar manfaatnya
daripada Sangha Dana, yaitu meditasi sampai mencapai Jhana (tingkatan
konsentrasi). Dan yang lebih besar lagi adalah meditasi Vipassana,
karena meditasi Vipassana ini akan menumbuhkan Panna (kebijaksanaan).
Dengan Panna inilah yang akan dapat membebaskan seseorang dari dukkha
untuk selama-lamanya (mencapai kebebasan sempurna nibbana).
Sang Buddha pernah menyatakan, "Siapa yang suka berdana ia akan
dicintai dan disukai". Ini manfaat yang langsung dapat dipetik pada
kehidupan sekarang ini.
Sedangkan manfaat yang dijelaskan
dalam Nidhikhanda Sutta, Samyuta Nikaya I, 2: "Wajah cantik, suara
merdu, kemolekkan dan kejelitaan, kekuasaan serta mempunyai banyak
pengikut, semua itu dapat diperoleh dari pahala perbuatan baik, yaitu
berdana".
Ada kalanya, orang berdana hanya karena ingin
dipuji dan dicintai, supada dapat terlahir dialam surga, supaya menjadi
kaya dan mempunyai kekuasaan, maka orang itu hanya akan mendapatkan itu
saja. Tetapi sesungguhnya ada tujuan yang tertinggi, yaitu untuk
mengurangi keserakahan, kemelekatan, kekikiran, kebencian dan untuk
dapat mencapai kebebasan (kesucian batin). Maka kalau cita-citanya
tinggi seperti itu, tujuan yang tengah-tengah dan bawah pasti akan
tercapai juga.
Orang yang tak suka berdana yang walaupun
kecil atau sedikit, ia akan besar keserakahannya, ia akan mengumpulkan
dan terus mengumpulkan, nama, kekayaan, pangkat dan pujian. Ia senang
mengumpulkan, bahkan mengumpulkan problem, kesan yang tidak baik,
pengalaman pahit, kemarahan, kejengkelan dan ketidaksenangan. Orang yang
tidak suka berdana ia akan menderita, karena tidak suka melepas
miliknya, ia akan semakin melekat, karena tidak bisa melepaskan
segalanya. Padahal apa yang kita cintai, apa yang kita miliki toh
akhirnya akan ditinggalkan, tidak ada sedikitpun yang dibawa ke alam
sana, yang dibawa hanyalah kamma baik dan kamma buruknya. Makan tidak
enak, tidur pun tak nyenyak dengan tidak melepas kesan yang buruk,
problem yang berhubungan dengan sesama makhluk akan menumbuhkan
kebencian dan dendam. Janganlah semua itu disimpan, dikumpulkan, tetapi
buang lepaskan semuanya, maka kita akan merasa lega, tentram, damai dan
bahagia.
Hidup ini sudah banyak macam persoalan alamiah,
Sang Buddha mengatakan: "Hidup yang bagaimanapun bentuknya adalah
dukkha, janganlah menambah persoalan ekstra, lepaskanlah semua itu". Dan
kita bisa mulai berlatih untuk melepas dengan meningkatkan kemurahan
hati dan mengurangi kekikiran juga kemelekatan dengan berdana (memberi
kepada mereka yang patut menerima). Dana bukan berarti hanya berupa
materiil semata: uang, makanan dan barang. Tetapi bisa juga berupa
moril: nasehat-nasehat, pertolongan, dorongan, perhatian dan pemberian
maaf. Kalau orang yang tidak pernah berdana, maka suatu saat kalau jasa
kebaikannya habis pasti ia akan menderita, seperti contoh: Orang punya
kacang lima butir, tapi kacang itu hanya dinikmati dan dimakan semuanya.
Maka kacang itu habis, akan tetapi kalau misalnya kacang itu disisihkan
satu atau dua butir dan ditanam diladang yang baik dan subur, maka
kelak jika kacang itu berbuah akan dapat ia nikmati. Seperti halnya
orang yang berdana, itu bagaikan orang menanam bibit.
Orang berdana bagaikan menabung, yaitu menabung kamma baik yang akan bisa menolongnya dan yang akan menyelamatkannya.
Menurut Dhamma, memberi bukan berarti berkurang, namun memberi
sesungguhnya adalah bertambah (bertambah kamma baiknya). Didalam Kitab
Itivutaka, 18 Sang Buddha menjelaskan: "Seandainya semua makhluk
mengetahui seperti Aku (Tathagatha) mengetahui tentang manfaat berdana,
mereka tidak akan menikmati semua yang mereka miliki tanpa membaginya
dengan makhluk lain (yang membutuhkan), juga tidak akan membiarkan noda
kekikiran mengoda dan menetap didalam batinnya. Bahkan jika apa yang
mereka miliki merupakan sedikit makanan terakhir yang dipunyai, mereka
tidak akan menikmati tanpa membaginya (berdana), seandainya ada makhluk
lain yang sangat membutuhkannya".
Kita sebagai umat Buddha,
mestinya harus mengerti manfaat yang paling besar dari berdana, yaitu:
tidak hanya dipuji, terkenal, menjadi kaya dan terlahir di Alam Dewa.
"Manfaat yang paling besar dari berdana adalah bebas dari kekotoran
batin". Kalau ada orang berdana (memberi bantuan) hanya ingin dipuji,
maka itu adalah sangatlah rendah, apalagi bila keinginannya untuk dipuji
itu tidak didapatkan, pasti kecewa dan menderita.
Menurut
Dhamma, kalau seseorang ingin menjadi kaya, berjuanglah dengan
sungguh-sungguh, kerja keras, rajin, tekun, ulet, hemat (tidak boros),
jujur dan banyak berbuat baik. Cita-cita itu pasti akan tercapai, karena
itu adalah hukumnya.
Kekayaan tidak bisa didapat hanya
dengan cara memohon, berdoa dan sembahyang, namun kekayaan bisa didapat
kalau orang bekerja atau berkarya menurut hukum kebenaran.
