Rabu, 19 Februari 2014
Rabu, 29 Januari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
KASIH BUDDHA MENERANGI DUNIA
PESAN WAISAK 2557 BE/2013
SANGHA ANGUNG INDONESIA
KASIH BUDDHA MENERANGI DUNIA
Pesan dan Renungan Waisak 2557 BE/ 2013
(Sangha Agung Indonesia)
(Sangha Agung Indonesia)
Namo
Sanghyang Adi Buddhaya
Namo
Tassa Bhagawato Arahato Sammasambuddhassa
Namo
Sabbe Bodhisattwaya Mahasattwaya
Setiap kali Hari
Waisak tiba umat Buddha akan mengenang tiga peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan guru junjungan para dewa dan manusia :
1. Kelahiran calon Buddha, yaitu Pangeran Siddhartha Gotama, di Taman Lumbini.
2. Tercapainya Penerangan Sempurna, yaitu Petapa Gotama menjadi Buddha, di Buddha Gaya.
3. Mahaparinirwana Buddha, yaitu Buddha Gotamameninggalkan dunia ini, di Kusinara.
Hari
Waisak adalah Hari Buddha, oleh karena itu di hari peringatan Waisak kita
sesungguhnya tidakhanya dibatasi untuk hanya mengenang tiga peristiwa tersebut
di atas, tetapi kita juga dapat mengenangkehadiran Buddha di dunia ini secara
lebih utuh. Kehadiran Buddha yang penuh kasih, kehadiran Buddha yang telah
menerangi dunia. Dan kita akan benar-benar menyadari bahwa kasih Buddha
menerangi dunia.
Dalam
kitab suci dikatakan, bahwa:“Melihat orang-orang tenggelam dalam samudra
kelahiran, kematian, dan kesedihan, Buddha tergerak untuk menolong mereka.
Melihat orang-orang melakukan kejahatan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan,
lalu menerima buah yang pahit akibat kejahatannya, namun mereka tidak pernah
berhenti mengejar nafsu keinginan jahatnya, Buddha tergerak untuk menolong
mereka. Melihat bahwa walaupun mereka merindukan kebahagiaan, tetapi mereka
tidak berusaha mendatangkan buah karma yang membahagiakan bagi diri mereka,
walaupun mereka membenci rasa sakit, namun mereka dengan sadar mendatangkan
buah karma yang menyakitkan bagi diri mereka sendiri, Buddha tergerak untuk
menolong mereka. Melihat mereka hidup saling membunuh dan melukai satu sama
lain, dan mengetahui bahwa oleh karena kebencian telah tumbuh subur di dalam
hati maka mereka pasti akan menerima akibat buruknya bagi diri mereka sendiri,
Buddha tergerak untuk menolong mereka.”Buddha menjelaskan kepada para biksu
mengenai kehadiran seorang Samyaksambuddha di
dunia ini, “Para
Biksu, ada satu orang yang terlahir di dunia demi kesejahteraan banyak makhluk,
demi kebahagiaan banyak makhluk; Ia terlahir karena kasih kepada dunia, untuk
kepentingan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Siapakah
orang yang satu ini? Ia adalah Tathagata, seorangArahatyangMahasuci, seorang
yang mencapai Penerangan Sempurna. Inilah, Biksu, manusialuarbiasa yang satu
itu.”(AnguttaraNikaya I, 21) Karena kasihNya kepada dunia, Buddha telah
menunjukkan kepada kita melalui lakon perjuangan Pangeran Siddhartha dan Petapa
Gotama, bahwa manusiaitu mampu menjadi Buddha. Selanjutnya, setelah menjadi
Buddha, karena kasihNya Beliau mengajarkan Dharma yang merupakan jalan pembebasan
total dari duka, jalan untuk mencapai Kebahagiaan Sejati. Sanggha yang Beliau
bentuk adalah komunitas harmonis dari para praktisi Dharma, yang akan membantu
anggotanya belajar, berlatih, dan berbagi Dharma. Karenanya melalui kasih
Buddha, Sanggha yang secara turun temurun masih berlanjut hingga kini adalah
komunitas pelestari Dharma. Setelah kita menyadari betapa besar kasih Buddha
kepada dunia, kita seharusnya memberikan penghormatan dengan cara yang terbaik
kepada Buddha. Jika kita menempuh jalan Dharma, inilah cara yang terbaik untuk
menghormati Buddha. Kita tidak bias mencapai tujuan kita dengan hanya
mempersembahkan lilin, dupa, dan bunga. Marilah kita membaca petikan
Mahaparinibbana Sutta, untuk mengetahui apa yang dikatakan Buddha tentang
penghormatan tertinggi terhadap Beliau. Dan Bhagawa berkata, “Ananda,
siapkanlah sebuah tempat tidur di antara kedua pohon sala ini, karena Aku
merasa tidak enak dan ingin berbaring.” Maka Y.A. Ananda pun berbuat
sebagaimana yang Bhagawa minta, dan kemudian Bhagawa berbaring miring ke kanan,
dengan menumpangkan sebelah kaki di atas kaki yang lain dalam posisi bagaikan
singa berbaring, dengan penuh perhatian dan kesadaran yang jelas. Kemudian
kedua pohon sala itu mendadak, di luar musim, bunga-bunganya bermekaran dan
menaburi Beliau karena rasa hormatnya kepada Tathagata. Bunga-bunga dan bubuk
kayu cendana surgawi bertaburan, dan musik serta suara-suara surgawi pun dapat
terdengar, semuanya timbul dari rasa hormat kepada Tathagata. Lalu Bhagawa
memanggil Y.A. Ananda dan berkata, “Lihatlah pada bunga-bunga pohon sala serta
bunga-bunga, bubuk kayu cendana, musik, dan suara-suara surgawi ini. Namun,
bukanlah seperti ini Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dan dipuja
dengan penghormatan tertinggi. Tetapi para biksu dan biksuni, upasaka dan
upasika, yang menaati Dharma, menempuh jalan Dharma, melaksanakan Dharma,
merekalah yang menghormati, memuliakan, menghargai, dan memuja Tathagata dengan
penghormatan tertinggi. Oleh karenanya, taatilah Dharma, tempuhlah jalan Dharma
dan laksanakanlah Dharma. Inilah cara engkau seharusnya melatih diri.”
Melaksanakan Dharma adalah meneladani perjuangan yang telah dilakoni oleh
Buddha. Diawali sebagai manusia biasa, jika kita terus berjuang di jalan Dharma
maka pada akhirnya kitapun akan bisa menjadi Buddha.
Semua Buddha memiliki
tubuh Dharma (Dharmakaya).Dharmakaya itu maha esa dan senantiasa ada,
maka kasih Buddha pun senantiasa ada. Kasih Buddha adalah kasih semesta untuk
semua orang dan, kasih yang tidak pernah pada minim memberikan kebahagiaan bagi
semuamakhluk. Sebagai bentuk nyata pelaksanaan Dharma, kita seharusnya ikut
menghadirkan kasih Buddha dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mengasihi berarti
membawa kebahagiaan, mengurangi penderitaan, mempersembahkan sukacita, dan melampaui
semua diskriminasi. Dalam Karaniya Metta Sutta, terdapat bait yang
mengajarkan praktik mengasihi tersebut:“Selagi berdiri, berjalan, duduk, atau
berbaring, selama tiada lelap, dia tekun mengembangkan perhatian penuh
kesadaran ini, yang disebut Kediaman Luhur.” Kediaman Luhur adalah metta
yang membawa kebahagiaan, karuna yang mengurangi penderitaan, mudita
yang mempersembahkan sukacita, dan upekkha yang melampaui semua
diskriminasi.
Cara kita untuk
membawa kebahagiaan tidak hanya dengan mengasihi orang lain, tetapi juga
dengan mengasihi diri kita sendiri. Apabila kita tidak tahu bagaimana mengasihi
diri kita sendiri demi menghadirkan kebahagiaan, maka kita juga tidak akan
mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Jadi manakala menghadapi penderitaan
dalam diri sendiri, janganlah kita bertempur dengannya, kita malah akan semakin
menderitaoleh karena kita mengembangkan kebencian. Dengan belajar menerima dan
memeluknya,kita akan dapat merubah penderitaan itu menjadi kasih. Kebahagiaan
berkaitan erat dengan penderitaan, ketika tahu apa itu penderitaan kita juga
akan tahu apa itu kebahagiaan, jadi mengerti dan menyadari penderitaan
merupakan fondasi kebahagiaan.
Kasihadalah sifat
luhur yang memberikan dorongan dan semangat untuk menolong sesame manusia dengan
berbagai cara yang baik. Kasih yang agung menciptakan hati yang peka dan halus
untuk dapat turut merasakan penderitaan mereka yang sakit, sengsara, dan
menderita. Penderitaan anda adalah penderitaan saya, demikianlah hati orang
yang telah mempunyai kasih. Namun untuk mengurangi penderitaan dan
membantu mentransformasi penderitaan orang lain, kita pertama-tama perlu
belajar menangani penderitaan kita sendiri terlebih dahulu. Karuna bukan
berarti kita harus ikut menderita, karena jika kita malahan menderita bersama
orang yang tengah menderita maka tentunya kita tidak dapat menolong orang
tersebut. Yang harus kita lakukan adalah menghadirkan energi perhatian penuh
kesadaran, yaitu Buddha yang ada dalam diri kita. Jika dengan energi perhatian
penuh kesadaran kita menerima kehadiran emosi yang menyebabkan penderitaan,
maka kebijaksanaan akan lahir untuk meredakan emosi itu, kita pun terbebas dari
dukacita. Kasih juga berarti mempersembahkan sukacita kepada yang
lain,dan untuk itu kita juga harus mampu bersukacita terlebih dahulu. Apabila
kita tidak bisa tersenyum, tentunya tidak ada orang yang bisa mendapatkan
manfaat dari kehadiran kita. Sebaliknya, walaupun tidak ada apa pun yang kita
lakukan, apabila kita penuh sukacita sesungguhnya kehadiran kita sudah memberi
manfaat kepada banyak orang.
Dalam Satipatthana
Sutta, Buddha mengajarkan bagaimana menghadirkan sukacita dengan berlatih
hidup berkesadaran dan konsentrasi. Jika kita tahu cara melepaskan atau let
it go, hidup berkesadaran (sati), konsentrasi (samadhi), dan
kebijaksanaan (pannya), maka setiap saat sukacita dan bahagia akan bisa
hadir dalam diri kita. Akhirnya, jika kita mampu melampaui semua
diskriminasi, maka kita akan dapat mengasihi semua orang. Semua orang akan
ada dalam rangkulan kasih kita. Kitapun akan memiliki cukup banyak kasih dan
kesalingpahaman, untuk membantu mentransformasi dan menyembuhkan luka-luka yang
disebabkan oleh kekerasan, kebencian, dan diskriminasi. Jika kita tahu cara
untuk kembali ke momen saat ini dan membangkitkan energy perhatian penuh
kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan, maka kita akan bersentuhan dengan
keajaiban-keajaiban kehidupan. Kita akan memiliki kebahagiaan dengan seketika.
Kita akan memiliki kebijaksanaan. Kita tidak lagi mendiskriminasi atau
berpikiran sempit. Kita dapat membuka kedua tangan untuk merangkul semua orang
dan kita tidak memiliki musuh. Ketika kita tidak memiliki musuh, tidak mencela,
tidak menyalahkan, maka pikiran kita menjadi ringan seperti awan.
Marilah dengan
menggunakan momentum hari Waisak, kita bersama-sama memperkuat tekad kita untuk
berlatih mempraktikkan kasih Buddha. Semoga kegelapan yang menyebabkan adanya
ketidakharmonisan, permusuhan, dan saling membenci di dunia ini dapat menjadi
sirna. Kasih Buddha menerangi dunia.
Selamat Hari Waisak
2557, semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Mettacittena,
Mahathera
Nyanasuryanadi
Ketua Umum
MAWAS DIRI
PESAN WAISAK 2556 BE TAHUN 2012
SANGHA AGUNG INDONESIA
PESAN WAISAK 2556 BE TAHUN 2012
SANGHA AGUNG INDONESIA
Tema : GENTA WAISAK MELANTUNKAN SEMANGAT MAWAS
DIRI
DAN HIDUP HARMONI
Namo Sanghyang di Buddhaya
Namo Buddhaya,
Bodhisattvāya-Mahasattvāya
Setiap bulan Waisak umat Buddha Indonesia dan seluruh
dunia merayakan Tri Suci Waisak.Peringatan Waisak ditujukan untuk
mengenang tiga peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan guru Agung
Buddha Gautama. Secara historis tercatat bahwa pada tahun 623 sebelum masehi di
Taman Lumbini Pangeran Sidharta Gautama lahir, tahun 588 sebelum Masehi di
Buddhagaya petapa SidhartaGautama mencapai pencerahan sempurna atau
ke-Buddha-an, kemudian tahun 543 sebelum masehi Beliau wafat di hutan Sala
milik suku Malla, di Kusinara.
Ketiga peristiwa tersebut merupakan peristiwa biasa
dan tidak ada yang istimewa, namun apabila kita renungkan secara lebih
mendalam akan mendapatkan mutiara-mutiara kemanusiaan universal yang tak
terbatas. Buddha Gautama mampu menggunakan waktu hidup dengan sempurna,
terdorong oleh semangat altruistik berupa dorongan kasih terhadap derita
makhluk-makhluk dan derita kerusakan dunia. Beliau mengorbankan karier dan
kemewahan duniawi yang cemerlang dengan memilih hidup sederhana,mengoptimalkan
potensi diri dengan praktek langsung menuju jalan pembebasan. Beliau tidak
pernah berhenti berkarya, berbagi, mengajar, hingga akhir hidup-Nya.
Melalui bimbingan yang dilakukan dengan penuh kasih dan kebijaksanaan, tak
terhitung jumlahnya makhluk yang mengalami transformasidari hidup gelap menuju
kecerahan, dan kebahagiaan, serta pembebasan. Terinspirasi oleh Dharma
ajaran Buddha, banyak peradaban luhur yang muncul, berkembang di seluruh
dunia sampai sekarang baik yang bergerak di bidang kemanusiaan,
penyelamatan lingkungan, seni dan budaya, maupun ilmu pengatahuan. Kesemuanya
menekankan pada dua aspek utama ajaran Buddha yakni kasih atau kepedulian
dan kebijaksanaan.
Pencapaian Buddha bukanlah suatu kebetulan, atau
sebuah misteri sehingga hanya pribadi Sidharta yang mampu mencapainya.
Buddha berarti insan yang talah bangkit, mengetahui, dan memahami.
Kapasitas untuk menjadi bangkit, memahami, dan mengasihi merupakan
hakekat Kebuddhaan. Beberapa teksMahāsatipaţţhāna Sutta kitab
suci agama Buddha dijelaskan bahwa seseorang yang mampu mendisiplinkan
diri, menata moralitas, mengoptimalkan potensi mental dengan cara benar akan
mampu mengalami kebahagiaan dari pencerahan. Teks klasik memberikan
harapan yang jelas apabila kita berlatih dengan cara benar, memelihara
perhatian penuh (eling) mengikuti metodeseperti yang telah dipraktekkan
Sidharta Gautama, dalam periode waktu tertentu manusia akan mengalami
kebahagiaan tertinggi dari pencerahan. Cara berlatihnya dengan menggunakan
perangkat indera, tubuh, dan batin yang dimiliki manusia, sangat manusiawi
dan jauh dari jebakan spekulatif.

Mengikuti jalan Buddha bukanlah jalan yang pasrah,
menyerahkan diri kepada sesuatu yang Adi Kodrati sembari berharap bahwa
segala sesuatunya akan beres dengan sedirinya. Jalan Buddha adalah jalan
berlatih, berkontribusi, bukan jalan berpasrah, dan yang dibutuhkan adalah
pemahaman danpengertian yang benar mengenai latihan. Buddha sangat mengharapkan
para siswa untuk berlatih dengan rajin, dalam teks Dhammadayada
Sutta Buddha menasehati para siswa agar menjadi manusia
pembelajar agar bisa menjadi pewaris kebenaran DharmaNya bukan menjadi
pewaris materi. Menjadi pewariskebenaran akan jauh lebih berharga daripada
pewaris apapun. Latihan yang ditekankan oleh Buddha adalah latihan
perhatian atau sadar penuh terhadap keberlangsungan batin dan jasmani atau
latihan mawas diri dan latihan kasih atau hidup harmoni. Sesungguhnya
hidup harmoni dengan sesama dan dengan alam semesta membutuhkan latihan
mawas diri. Latihan mawas diri adalah gerbang menuju pemahaman
jernih bahwa alam semesta dengan segala isinya memiliki hubungan erat dan
saling membutuhkan. Sesuatu yang disebut pribadi atau diri manusia menurut
ajaran Buddha sesungguhnya terbuat dari elemen-elemen bukan diri, bahkan jiwa
dalam agama Buddha dipandang sebagai kumpulan agregat semata. Kebenaran ini
akan terlihat dengan sangat jelas manakala berlatih mawas diri secara
intensif. Latihan merenungkan makananyang kita makan, pakaian, dan berbagai
fasilitas lain yang dipergunakan merupakan buah karya alam dan melibatkan
manusia tak terhitung banyaknnya. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri,
hal inimembuktikan kebenaran Buddha bahwa segala sesuatu saling terkait, apa
yang disebut diri sesungguhnya tidak ada karena hanya ciptaan kumpulan bukan
diri. Pengertian mendalam ini menghantarkan manusia pada pemahaman
kesalingterkaitan sehingga dengan sendirinya akan menghargai sesama dan
alam semesta.
Dalam konteks kehidupan nyata berbangsa dan bernegara
dewasa ini, mawas diri dan hidup harmoni menjadi semakin relevan.
Indonesia sebagai sebuah mozaik kehidupan yang jamak dengan kekayaan suku,
agama, ras, budaya sangat membutuhkan ajaran mawas diri dan hidup harmoni.
Segenap umat Buddha Indonesia selayaknya mendedikasikan diri untuk mempraktekkan
jalan ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Realitas
historis menceritakan bahwa terinspirasi oleh ajaran ini, secara kreatif
cendekiawan Buddhis Nusantara di abad 14, M’pu Tantular telah menulis
risalah Kakawin Sutasoma yang menceritakan intisari kesunyataan melalui
perjalanan hidupBodhisattva Sutasoma. Karya agung ini menjadi
sangat terkenal karena didalamnya termuat gagasan luhur dalam seloka “mangkāng
jinatwa lawan śiwatatwa tunggal , bhīnnêka tunggal ika, tan hana
dharma mangrwa”. KataBhinneka Tunggal Ika diadopsi,
dijadikan sebagai jangkar pemersatu bangsa Indonesia sampai sekarang. Ini
merupakan contoh luhur nenek moyang kita yang memahami ajaran Buddha secara
kreatif, menggali nilai-nilainya bukan hanya menerima teks kitab suci secara
pasif. Contoh inspiratif fenomenallainnya muncul di India, terinspirasi oleh
keluhuran ajaran Buddha tentang pentingya sikap mawas diri dan
keharmonisan hidup, penguasa kekaisaran Maurya bernama Raja Asoka yang kejam
merubah perilaku menjadi penuh cinta kasih sesuai dharma sehingga dikenal
sebagai raja yang bajik.
Meskipun Buddha telah meninggalkan urusan duniawi,
tetapi tetap memberikan nasehat tentang pemerintahan yang baik. Buddha
mendorong semangat konsultasi dan proses demokrasi, pendekatannya adalah
moralitas dan menggunakan kekuasaan rakyat secara bertanggung jawab. Buddha
mendiskusikan pentingnya dan prasyarat pemerintahan yang baik. Beliau
menunjukkan bagaimana negara dapat menjadi korup, memburuk, dan tidak
bahagia jika kepala pemerintahan korup dan tidak adil. Beliau
berbicaramenentang korupsi dan bagaimana pemerintah harus bertindak berdasarkan
prinsip kemanusiaan. Buddha menjelaskan dalam kitab Ańgutara
Nikāya : ”jika penguasa suatu negara adil dan baik, para
menteri menjadi adil dan baik; jika para menteri adil dan baik, para
pejabat tinggi adil dan baik; jika para pejabat.tinggi adil dan baik,
para bawahan menjadi adil dan baik; jika para bawahan adil dan baik, rakyat
menjadi adil dan baik.
Dalam Cakkavattī Sīhanāda Sutta Buddha
berkata bahwa pelanggaran susila dan kejahatan, seperti pencurian,
penipuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat muncul dari kemelaratan. Para
raja dan pemerintah mungkin mencoba untuk menekan kejahatan melalui
hukuman, tetapi memberantas kejahatan dengan kekerasan adalah sia-sia.
Buddha menyarankan (dalam Kuţadanta sutta) pengembangan
ekonomi sebagai pengganti kekerasan untuk mengurangi kejahatan. Pemerintah
harus mengatur sumberdaya negara untuk memperbaiki kondisi ekonomi negara
tersebut. Hal ini dapat dimulai dengan pengembangan pertanian dan
pedesaan, menyediakan bantuan finansial kepada pengusaha,menyediakan gaji yang
memadai kepada pekerja untuk mempertahankan hidup layak dengan
martabat manusia.
Disamping itu setiap permasalahan di dunia haruslah
diselesaikan dengan metode pengertian yang benar. Kita hendaknya tidak
terus-menerus menyelesaikannya dengan cara ekonomi, perang,
ataupun politik seperti yang telah dilakukan di seluruh dunia, karena itu
justru memperumit masalah danmenciptakan lingkaran setan. Saling memberi Dharma
bahkan selama krisis ataupun konflik adalah usaha yang sesuai dengan
situasi dunia sekarang. Jangan menghabiskan waktu lagi untuk bertukar budaya
yang mendukung kekotoran batin dan keegoisan. Kita dapat mempromosikan dan
membuat ribuan atau jutaan orang siap untuk mati. Tetapi mengapa kita
tidak bisa mempromosi untuk menghentikan mereka dari saling membunuh satu
sama lain?Sosialisme Dharma adalah intisari Dharma Buddha dan semua
agama, meskipun terlewatkan oleh setiap orang. Ini tersirat dalam
kehidupan di komunitas yang luhur, mencari keuntungan bagi kaum pengusaha
dan bekerja bersama-sama, serta semua makhluk termasuk hewan, dan bahkan
tanaman, dengan menegakkan prinsip paling mendasar bahwa kita semua adalah
saudara dalamkelahiran, menjadi tua, sakit, dan mati. Pikiran kita sendiri dan
penyalahgunaannya adalah musuh kita yang sesungguhnya. Buatlah pikiran
anda menjadi pelayan anda daripada menjadi majikan anda. Mencari jalan
untuk menghentikan keinginan dan pengharapan. Hiduplah sesuai dengan penuh
kesadaran (mawas diri) dan kebijaksanaan, jangan hidup dengan penuh
pengharapan-pengharapan. Umat Buddha hendaknya tidak terganggu bahkan oleh
sakit kepala, tinggalkan gangguan kegelisahan dan penyakit mental. Hal
ini memungkinkan dengan bertumpu pada prinsip Dharma ajaran Buddha yang
mengatakan tathata , artinya 'seperti inilah' atau
sesuatu sebagaimana adanya. Inilah fakta alami bahwa segala sesuatu terjadi
menurut sebab dan kondisinya, dan menerimanya tanpa ada rasa aneh ataupun
terkejut tentangnya.
Akhirnya, marilah kita internalisasikan genta waisak
atau hari Buddha ini dalam kehidupan sehari-hari secara nyata dengan
semangat mawas diri, dan hidup harmoni dengan sesama manusia, serta
alam sekitar. Selamat Waisak 2556 BE, semoga semua makhluk berbahagia
bebas dari penderitaan.
Jakarta, 09 April 2012
Maitricittena,
Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum
Langganan:
Postingan (Atom)